pulang pada
malam karena doa ibuku
aku di bawah hujan yang mengguyur
tanah air, bangkit mencoba untuk berlari
melompat, menari, merangkak di atas
luka-luka bumi pertiwi
membahana petir yang menggelegar di
depan tubuh remukku
namun aku ingin tetap berjalan
sejauh batas kemampuan kaki ini untuk menjamah tanah basah
mata yang berunang-kunang
mulut yang terkoyak lapar dan haus
dan tangan yang terkulai mengapung
adalah langkahku yang terakhir sebelum aku tersungkur, terjebak di ruang kubur.
langit hitam
cahaya hitam
bulan hitam
bintang hitam
dan samudra menghitam
diriku pun menghitam di tengah
hitam malam
sunyi, legap, senyap, penat, tak
tepat
suara anjing-anjing gila mengaung
meraung di tengah malam yang tak kukenal
seperti dalam mimpi langkahku tiada berasa, tiada
bergaram, hambar!
sahut menyahut suara malam di tengah hutan
bercengkrama pada hujan, namun ia tak hiraukanku
ia tak menoleh padaku ataupun menyapa dan menyahut
aku kikuk, aku mati arah dan jalan menjadi buntu
ibu tolong aku
tuhan jalan ini sulit kujamah, tunjukkan padaku mana
jalan itu
tak seperti dulu, tak seperti yang lalu
diriku terasa telah membeku dalam kemajuan
tak terasa apa yang harus aku lakukan dan aku harus
apa kini
sepanjang jalan yang panjang dulu aku menemukan
cahaya, namun kini entahlah!
aku mati di sisi zaman yang tak kukenal,
aku kalah!
……………………
ah!
ah!
jalan
hari
malam
hujan
samudra
langit
aku tak mau kalah
aku belum kalah
ibu aku belum kalah
tuhan aku belum kalah
………………………………………………..
Singaraja, 2 Desember 2012
Oleh: I Putu Supartika
0 comments:
Post a Comment